• slide nav 1

    Film Rumah Tanpa Jendela

    100% hasil bersih dari tiket bioskopnya akan didonasikan untuk gerakan sosial...
  • slide nav 2

    Buku Asma Nadia

    Buku Karya Asma Nadia...
  • slide nav 3

    Jilbab Traveler

    Agar Perjalanan MUDAH, MURAH bahkan GRATIS, tapi tetap AMAN bagi muslimah ...
  • slide nav 4

    Rumah Baca AsmaNadia di Seluruh Indonesia

    Menjelajah Buku Membuka Mata Dunia...
  • slide nav 5

    Workshop

    Pelatihan Menulis Bersama Asma Nadia ...
  • slide nav 6

    News

    Berita Media...

Workshop


Arti workshop bagi penulis wannabe

Apa perbedaan Helvy Tiana Rosa dan Asma Nadia?
Keduanya sama-sama penulis. Telah menghasilkan puluhan buku yang diterbitkan berbagai penerbit. Di jalur menulis yang mereka pilih, masing-masing telah memenangkan banyak penghargaan menulis.  Sejak akhir tahun 90-an hingga saat ini, buku-buku mereka masih terus dicetak ulang dan bertengger di rak top sellers dan best sellers.

Meski sekilas sama, ada satu perbedaan diantara saya (POV berpindah ceritanya, dari narator ke POV orang pertama:P, hehehe...) dan Helvy Tiana Rosa, sang kakak yang sejak awal menaruh kepercayaan bahwa adiknya bisa menulis, melebihi kepercayaan yang dimiliki sang adik:)

Perbedaan itu ada pada latar pendidikan kami. Saya hanya sempat mencicipi bangku kuliah beberapa tahun, karena kondisi kesehatan saat itu.  Helvy sebaliknya, memiliki latar pendidikan sastra. Terakhir menyelesaikan S-2 jurusan Sastra Indonesia di UI beberapa tahun lalu dan lulus dengan IPK memuaskan.

Saya tidak seberuntung kakak saya itu.
kuliah di jurusan yang nggak nyambung dengan dunia sastra.
Tidak pernah ikut workshop kepenulisan, kecuali satu: ketika diundang menjadi peserta  workshop menulis yang diadakan Majelis Sastra Asia Tenggara atau Mastera, tahun 2001.


Workshop ini menjadi satu-satunya workshop menulis yang saya ikuti dan meninggalkan kesan yang dalam. Sebagai aktifis Forum Lingkar Pena,  yang memiliki ribuan anggota di berbagai pelosok tanah air dan di luar negeri, saya sungguh merasa bahwa bentuk workshop seperti inilah yang harusnya digalakkan di tanah air. Yang harusnya, dicicipi oleh anggota-anggota FLP, juga siapa saja yang ingin menjadi penulis.

Sebuah workshop, jauh lebih berarti ketimbang dialog, talkshow, atau seminar.
Ada pembekalan keilmuan yang menurut saya harusnya disampaikan dengan simple, ringkas dan aplikatif, hingga setiap peserta tahu bagaimana menulis dengan lebih baik, setelahnya.

Workshop yang baik, selain membekali juga mampu membuat pesertanya bisa menemukan kekurangan dan kelebihan yang mereka miliki sebagai seorang penulis.  Sehingga bisa melakukan lompatan yang signifikan bakda workshop.
Tahu perubahan apa yang harus mereka buat, perbaikan apa yang harus mereka lakukan pada puluhan file yang saat ini bersembunyi dengan manis di folder komputer kita.

Idealnya workshop menulis diadakan minimal sekali tiga hari, ini menurut saya. Di Mastera waktu itu kami belajar selama 5 hari.

Ada proses menulis dan dibedah, yang berlangsung oleh instruktur yang tepercaya, dan memiliki kemampuan mengajar yang baik dan menyenangkan, hingga atmosfir workshop mendukung proses belajar. Akan lebih baik lagi jika proses ini kemudian terus berlangsung. Sebab upaya memproses diri tidak selesai, setelah kita menjadi penulis dan punya buku yang diterbitkan. Proses ini akan mengasah kreativitas, ini yang membuat kenapa ada penulis yang bisa terus menemukan ruang untuk berkarya, dan ada penulis-penulis yang setelah berkarya (seolah-olah) selesai, atau karyanya terkesan sebagai pengulangan alias itu-itu saja.
Kebaruan dalam karya harus ditemukan lewat pencarian yang terus menerus.

Pengalaman dari mengikuti workshop di Mastera itu, belakangan saya coba tuangkan dalam konsep PULPEN (pelatihan kepenulisan) ASMA NADIA.
Bagaimana memberikan workshop kepada mereka yang tidak punya latar belakang sastra atau bahasa dan asing dengan teori sastra? Bagaimana membuat workshop yang kena dan menarik? Dengan harapan sedikit pengalaman yang saya miliki bisa saya bagikan kepada rekan-rekan yang suka menulis.

Lainnya saya suka gemas dengan janji-janji yang terlalu muluk yang saya baca dalam iklan workshop menulis: Menjadi milyarder dengan menulis, misalnya. Apa lagi jika pemberi materi belum lagi menjadi penulis milyarder. Atau workshop MENJADI PENULIS HEBAT,sementara pematerinya masih harus membuktikan diri utk menjadi penulis hebat. Meski bisa saja berkilah bahwa hebat itu relatif. Tapi orang-orang hebat di bidang apa saja, punya satu ciri: mereka terlihat.  Saya sendiri masih dalam proses dan tidak tahu apakah akan mencapai kata hebat itu. Tapi sedikit yang saya punya, insya allah akan saya bagi kepada siapa saja yang mau belajar, tanpa janji-janji terlalu muluk dari yang   bisa saya berikan.

Tentu saja workshop sehebat apa pun tidak cukup. Pada akhirnya seorang yang ingin menjadi penulis harus menempa dirinya terus menerus, harus terus menulis, dan tidak berhenti berproses. Dibutuhkan kekuatan tekad agar semangat terus menyala dan kemampuan terus diasah.

Ayo menulis!
 
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon More
Developer CekWebsite.com