• slide nav 1

    Film Rumah Tanpa Jendela

    100% hasil bersih dari tiket bioskopnya akan didonasikan untuk gerakan sosial...
  • slide nav 2

    Buku Asma Nadia

    Buku Karya Asma Nadia...
  • slide nav 3

    Jilbab Traveler

    Agar Perjalanan MUDAH, MURAH bahkan GRATIS, tapi tetap AMAN bagi muslimah ...
  • slide nav 4

    Rumah Baca AsmaNadia di Seluruh Indonesia

    Menjelajah Buku Membuka Mata Dunia...
  • slide nav 5

    Workshop

    Pelatihan Menulis Bersama Asma Nadia ...
  • slide nav 6

    News

    Berita Media...

Menulis Fiksi Remaja, seberapa sulit sih?

Ya, seberapa sulit menulis fiksi remaja? kelihatannya gampang. Betulkah gampang itu? Tapi kenapa justru sangat sulit bagi sebagian orang? Adakah hal berbeda yang harus ada dalam fiksi remaja?

Saya masuk dalam dunia kepenulisan dengan modal sebagai penulis fiksi remaja. Cerpen, cerita bersambung di awal-awal menulis dulu, cukup sering dimuat di majalah Annida dan Ummi. Kalau pun sekarang cerpen-cerpen saya  juga dimuat di media berbeda seperti Republika dan Horison, atau menulis tidak dengan gaya remaja seperti dalam novel Derai Sunyi (dar!mizan) yang memberi saya  penghargaan dari Majelis Sastra Asia Tenggara (Mastera)  sampai sekarang saya tetap tidak bisa meninggalkan dunia fiksi remaja.

Kenapa saya memulai dengan fiksi remaja?  Bagi saya dulu, karena saya merasa dekat dengan dunia remaja. Saya suka dengan keceriaannya, dan menemukan betapa bahasa dan gaya menulis saya ketika itu bisa dibilang sangat 'kena' ke remaja. Pas. ketika itu saya menganggap ini bukan sebagai sebuah kelemahan, melainkan sebuah kelebihan jika saya bermain di ladang yang tepat. Maka saya pun menulis fiksi remaja.

Seiring waktu, saya menjadi lebih personal menggarap fiksi remaja. Sebab saya melihat sosok remaja sebagai sosok yang penting sekali untuk ditemani, sebab merekalah yang akan menggoreskan masa depan bangsa ini nanti. generasi yang menggantikan kita. Sementara serbuan buku dan komik impor yang sebagian besar menawarkan bacaan yang berbeda dari budaya dan tradisi bangsa, semakin menggila.

Saya harus bermain di remaja. Tidak hanya alasan di atas, tetapi juga betapa remaja yang sering disebut2 sebagai sosok ringkih karena masa transisi mereka, juga kerap sulit menemukan sosok yang tepat untuk mereka ajak bicara. Di satu sisi mereka amat mudah terbawa tren yang dibawa media. Maka saya putuskan, saya harus ikut menciptakan tren... atau setidaknya membawa mereka pada tren yang semestinya:)  Kadang ini membuat saya mengalahkan selera. Contohnya buku Ada Rindu di Mata Peri, yang awalnya ingin saya tulis sebagai bukan novel remaja. Tentang ibu dengan segala cinta yang kadang begitu rumit dimengerti bahkan oleh seorang anak. Tapi lalu terpikir, remaja sering bermasalah dengan bundanya... sering tidak mengerti kebijakan2 bundanya. Maka saya pun banting stir... menulis novel itu khusus untuk remaja dengan harapan lebih mencintai bundanya:)

Menulis fiksi remaja bagi saya adalah sebuah pilihan. Sebuah kewajiban yang saya tekankan pada diri. Bukan berarti saya tidak ingin menulis yang lain. Alhamdulillah sekarang ada sebuah novel bertema berbeda, tentang poligami yang sedang saya garap (saat ini masih dimuat bersambung di majalah UMMI). Kalau pun ada cerpen saya yang dimuat di antologi yang lebih serius (Kota Bernama dan Tak Bernama, Bentang), atau kumpulan cerpen Republika (saya lupa judulnya), tetapi saya kira saya masih akan berusaha mewarnai dunia fiksi remaja kita.

Surat, sms, email, telepon berisi curhat dari remaja di tanah air yang saya terima, membuat saya ingin selamanya menjadi teman mereka. Berada di sisi mereka ketika melalui hari2 sulit. insya allah.

Kesulitan baru terasa ketika usia semakin tinggi... saya yang bukan hanya bukan remaja lagi, tetapi amat jauh dari kisaran usia remaja. Sementara dalam fiksi remaja ada hal2 yang harus diperhatikan. Pertama tentu tema yang dekat dengan remaja. Kedua adalah penggarapan yang harus sejiwa dengan dunia yang 'gue banget'. Ketiga adalah tren remaja yang harus terus diupdate. Hingga kita nggak mengangkat hal2 yang basi atau terkesan jadul bagi anak2 muda kita. Atau menggunakan bahasa gaul yang justru sudah tidak dipakai lagi... (garing banget kan? hehehe). Keempat, tahu sedikit banyak jiwa remaja dan masalah2 apa yang mereka hadapi.

Maka jangan heran jika saya sampai saat ini masih lebih banyak membeli majalah remaja dibandingkan majalah utk wanita dewasa. Atau mengobrol dengan adik2 remaja kita. Alhamdulillah untuk yang terakhir saya bersyukur masih sering diundang oleh adik2 remaja untuk datang mengisi acara di sekolah (SMP, SMA, kampus, yang membuat saya semakin nyadar... oh my god.. asma benar2 dah tua, hehehe).

Perlu jerih payah lebih untuk membuat fiksi remaja, bagi saya sekarang. Saya sering tercengang bagaimana seorang Hilman dan Boim Lebon melakukannya:) Eksis sebagai penulis fiksi remaja selama 25 tahun lebih, sungguh luar biasa. Semoga saya diberi kekuatan untuk bertahan dan terus memberikan buku bergizi buat adik2 remaja: edukatif, rekreatif dan inspiratif:)

Salah satu upaya lain adalah terus berusaha belajar dari pengarang2 remaja lain. Dari situ saya tahu ada banyak cara menuliskan fiksi remaja. Tidak juga harus selalu dengan bahasa gaul. Beberapa cerpen saya dalam buku kumpulan cerpen Cinta Tak Pernah Menari (GPU, 2003) ditulis dengan cukup baku tanpa meninggalkan esensi remaja. Ini pilihan yang lain... terbuka buat semua. Tergantung apa yang ingin dicapai lewat tulisannya, dan dengan gaya remaja bagaimana agar tujuan tercapai lebih maksimal.

Ah, kalau rekan melihat kaver buku di jurnal ini, ini adalah kaver buku remaja terbaru Asma. Ada beberapa sudut info di dalamnya, hasil riset kecil2an... (pink... kenapa harus pink sih yang identik dengan valentine? siapa yang menentukan? sejak kapan?). Seri Aisyah Putri yang sudah diterbitkan empat buku sebelumnya, adalah buku pertama asma yang diterbitkan (mulai tahun 2000). Dan masih cetak ulang hingga sekarang. Semoga seri terbaru ini (remaja banget nggak sih? hehehe) masih bisa menemani dunia remaja... ceria tanpa harus kehilangan arah.

Mohon doanya, ya?:)

0 komentar :

Poskan Komentar

 
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon More
Developer CekWebsite.com