• slide nav 1

    Film Rumah Tanpa Jendela

    100% hasil bersih dari tiket bioskopnya akan didonasikan untuk gerakan sosial...
  • slide nav 2

    Buku Asma Nadia

    Buku Karya Asma Nadia...
  • slide nav 3

    Jilbab Traveler

    Agar Perjalanan MUDAH, MURAH bahkan GRATIS, tapi tetap AMAN bagi muslimah ...
  • slide nav 4

    Rumah Baca AsmaNadia di Seluruh Indonesia

    Menjelajah Buku Membuka Mata Dunia...
  • slide nav 5

    Workshop

    Pelatihan Menulis Bersama Asma Nadia ...
  • slide nav 6

    News

    Berita Media...

Sex dan Cerita Kita


Baru-baru ini saya mendapat satu pernyataan dari seorang pengarang, ketika saya mengeritik satu bab panas dalam novelnya. Dia menganjurkan saya untuk melihat sebuah karyanya secara utuh. Setelah tuntas membaca, bukan hanya kesan saya pada bab itu saja.
Saya sempat termenung. Sempat ada reflek untuk menolak pernyataan tsb, ttp saya merasa berkewajiban utk merenungkannya dulu, mengkajinya, meski saya bukan divisi litbang dan kritik FLP, hehehe.
Perenungan itu perlu. Sempat pula saya mendiskusikan soal ini kepada beberapa orang. Lebih sebagai pemenuhan kewajiban moral. Upaya obyektif. Berkata utk apa. Menolak utk apa. Apakah utk sebuah pembenaran, atau memang menegakkan kebenaran yang kita yakini terhadap suatu hal. Hawa nafsu seringkali mendorong kita utk bertindak reflek melakukan pembenaran, ketimbang yang kedua. Saya tidak mau ini terjadi pada saya.
Benarkah sebuah karya harus selalu dilihat secara utuh, dan tidak bisa perbagian?
Sebuah novel yang bagus, tapi di dalam salah satu bab-nya ada adegan erotis. Bagaimana FLP akan menilai ini? Bisakah Majelis Penulis di FLP melihatnya secara keseluruhan, kemudian berkata: jika pada konteks yang tepat, dan dilihat keseluruhannya, adegan itu menjadi boleh adanya. Kenapa ini saya ajukan, karena FLP harus mulai memikirkan batasan ini, seperti yang sempat kita bahas dalam MUNAS yl. Agar kita sama2 punya pegangan, landasan dalam menilai.
Atau bolehkah kita menyukai satu naskah, tp memberi catatan pada Bab tertentu? apakah ini akan tidak adil, karena tidak melihatnya sebagai satu bentuk menyeluruh?
Dulu saya sempat mendengar artis-artis panas kita berkomentar, adegan panas itu bersedia mereka lakukan, karena memang perlu dan sesuai dengan tuntutan cerita. Beberapa sutradara juga sempat melontarkan kalimat serupa. Seks dalam film sah, jika tidak mengada-ada, jika memang cerita menuntut demikian, jika memang harus. Bahkan Aaron Spelling (eh ini benar gak ya spellnya) dalam E entertaintment sempat berkata: Bukan seks yang harus dikhawatirkan, tapi perang. Mudah2an saya gak salah ingat orang yang mengatakan ini.
Bagaimana adegan erotis atau vulgar atau seks menjadi boleh? benarkah batasan yang disampaikan di atas? yang lebih kurang mendorong acuan pendapat teman saya tadi, bahwa semuanya harus dilihat keseluruhan, dan bukan peradegan.
Sebelum novelnya terbit, kami sempat berdiskusi soal ini. Saya yakin teman saya tsb adalah orang yang jujur dengan kata hatinya. Sehingga pasti dia punya alasan kuat utk tetap tidak mengubah adegan di bab hot tsb, dengan dalih di atas. ketika novelnya terbit.
Hanya saja saya masih terus memikirkan soal ini. ada beberapa pencerahan saya dapatkan dari bbrp orang:
Sesungguhnya setiap editor akan melihat naskah perbagian.
Sesungguhnya setiap kritikus sastra juga akan menyoroti naskah, bagian demi bagian, adegan demi adegan, bahkan tak jarang kata demi kata.
Sebuah buku disebut bagus, dengan bbrp catatan itu biasa. Bagus, tp di bagian ini kurang begini, bagian ini kurang begini. Demikian juga yang sempat saya dengar dari L. S Chudori ketika mengomentari novel akmal. "hampir tiap bab membangkitkan hasrat kita utk membacanya terus. kecuali beberapa bab yang biasa." lebih kurang begitu kutipannya. maaf kalau tidak sempurna. komen ini menunjukkan beliau menyoroti dan memilah novel imperia secara bagian demi bagian, menilai perbagian sebelum sampai pada kesimpulan keseluruhan.
Nah, lantas, pada kondisi bagaimanakah adegan vulgar atau seks itu menjadi sah? benarkah harus dilihat pada konteks keseluruhan novel/cerita? apakah masih berlaku?
Betapapun saya tetap pada pendapat penulis adalah yang paling berkuasa dalam menentukan tidak hanya apa yang mau ditulis, termasuk bagaimana dia menuliskannya.Saya yakin kita bisa menulis apa saja. termasuk seks. Tapi BAGAIMANA kita menuliskannya, dengan cara atau bentuk seperti apa, menggunakan metafor dan kreativitas lain, sepenuhnya adalah PILIHAN seorang penulis. Dan semua penulis, bisa memilih cara yang lebih baik, yang tidak mendorong pembaca untuk salah persepsi, atau terbawa kesan erotis dll. masalahnya adalah apakah sebagai penulis, kita mau atau tidak.

3 komentar :

  1. my opinion mengatakan... :

    Assalamualaikum Wr Wb.
    Sehubungan dengan tulisan bu asma di atas, saya ingin memberi kritika terlebih dahulu, yakni kenapa font tulisannya kecil sekali, andaikan ini sudut pandang mbak yang hakiki, seyogyanya nggak perlu kecil or mungkin mataku aza yang minus kali ya, hehehe >,<
    Terkadang, kita sering terjebak pada opini beberapa orang yang merasa perlu membenarkan tindakan mereka (kaitan dengan sebuah hasil karya), namun, apakah perlu merubah hal yang memang dianggap tabu or memang telah tercantum di Al-Qur'anul Karim?
    Mengenai melihat sebuah karya secara keseluruhan meskipun didalamnya termaktub hal-hal yang erotis dan mengundang syahwat, seyogyanya sang pembuat hasil karya terlebih dahulu menentukan tujuannya untuk apa? dijual untuk usia berapa ? Bagaimana proses jual belinya, apa terbuka untuk umum atau kalangan tertentu.
    Adalah hak setiap individu untuk menyorot hasil karya orang lain karena hasil karya akan mampu mengubah pola pikir pun kebiasaan sebuah bangsa. Terkadang, kita dikejutkan oleh kasus bullying atau kasus perkosaan yang pelakunya masih dibawah umur. Buntut punya buntut, sebagian penyebab dari kasus-kasus tersebut adalah media yang didalamnya menawarkan sarana seks seperti itu baik secara audio atau visual, seperti cerita atau novel. Saya berikan satu kasus yang terjadi di lingkungan saya ketika saya masih di pesantren. Senior saya terjebak dengan MBA (married by accident) lantaran membaca cerpen-cerpen romantisme picisan yang beredar murah, bahkan di rental buku bisa ditemukan dengan mudah, sayangnya sang pemilik rental buku tidak menyortir baik itu buku ataupun para peminjam yang masih dibawah umur. Pertanyaannya, salah siapakah ini? bagaimana seorang santriwati bisa terjebak kasus seperti ini? lingkungankah? pihak berwenangkah?
    Kasus lain, karena saya seorang guru, saya bisa memberikan berbagai bentuk kasus bullying, satu bentuk pengeksplorasian yang diproduksi anak-anak karena membaca buku-buku atau mempraktekkan yang didapatnya di sinetron-sinetron. Contoh, kasus anak distater (ditendang kemaluannya), kasus anak dipalak, sebenarnya sah-sah saja jika setiap orang mau memproduksi sebuah karya, namun mampukah sang produsen bertanggung jawab atas dampak yang akan ditimbulkan dari hasil karyanya tersebut?
    Atau tak adakah cara lain, pilihan kata-kata yang lain untuk memberikan sebuah nasehat? setahu saya, islam menyampaikan kebaikan dengan tidak menghalalkan yang jelek menjadi cara penyampaian terwujudnya kebaikan itu sendiri, sebuah hal yang semestinya dipertanyakan manakala ada film atau novel yang ingin memberikan sebuah hikmah yang baik, namun lebih mendetailkan hal-hal yang erotis dengan sedetil-detilnya? Pertanyaannya adalah apakah dampaknya akan sesuai dengan yang diharapkan atau bahkan cara / kejelekannya itu yang akan ditiru.

  1. Alfath FR mengatakan... :

    maaf sebelumnya, mungkin font tampilan artikel di atas diperbesar lagi :)
    Sy hanya sekedar pembaca. Awalnya pembaca apasaja. Sy juga awalnya makmum slogan "membaca itu jendela" dunia. Namun seiring berjalannya waktu, ketika banyak "tataran" dari pengajar di kampus bahwa diperlukan 'filter'dalam membaca apa saja. Semakin kesini sy sadar, beraneka ragam karakter dan prinsip hidup manusia, termasuk penulis, berhak menyampaikan cerita berdasarkan 'kacamata'nya. Dulu, sy sempat mengutuk dalam hati judul2 buku kontroversial yang beredar di pasaran tp sy sadar apa yg sy lakukan tidak benar. Judul buku yg menjaring minat masyarakat utk membeli pun hak penulis, juga ladang rezeki baginya.

    Ketika berjalan membalik2 halaman sebuah bacaan pun, sebagai pembaca, sy juga sadar tidak semua yg penulis (siapa pun) nyatakan (baik fiksi atau nonfiksi) harus ditelan mentah-mentah. Apalagi ada bab "mengganggu" seperti dalam tulisan di atas. Akhir kata, sy pun jadi memilih mana penulis yg karyanya pantas dibaca atau sekedar dilirik di atas rak buku toko. Lagi-lagi, pembaca pun, perlu punya "filter" untuk melanjutkan atau berhenti untuk membaca suatu tulisan.

  1. 'Afwan, saya sudah minus 8!!! Tulisan menarik, namun bikin mata saya agak sakit.

Poskan Komentar

 
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon More
Developer CekWebsite.com